Surya Sahetapy (16 poin)   9 Des 2015   Kementerian   914 dilihat
diubah 10 Des 2015 oleh Surya Sahetapy
Dear Bapak Presiden Republik Indonesia 2014-2019, Bapak Jokowi.

Bapak merupakan seorang yang diharapkan oleh kurang lebih 220 juta orang tidak terkecuali kelompok bahasa minoritas, Bahasa Isyarat.

Kemudian, saya iri kepada kaum mendengar bahwa mereka bisa mendengarkan kata-kata Bapak saat ada di TV, di Youtube dll. Sedangkan kami pun tidak bisa karena tidak akses informasi dan komunikasi. Tetapi sebelum itu, saya ingin memulai dari awal mula kenapa saya menulis laporan ini.

Berdasarkan postingan Bapak di Instagram (ir.jokowidodo) untuk tidak menggunakan Tuli dan justru menyarankan untuk menggunakan Tunarungu. Oleh karena itu, saya menemukan link --> www.laporpresiden.id sehingga saya tidak menahan diri untuk tidak menulis sebuah tulisan yang menyangkut Hak Asasi Manusia bagi komunitas Tuli.

Akan tetapi, Saya bahkan beberapa teman-teman yang telah "Mengembalikan Pendengaran" kepada Tuhan untuk selama-lamanya, lebih senang disebut Tuli dibanding Tunarungu. Oleh karena itu, Tuli merupakan bagian Kelompok Bahasa Minoritas yang mencakupi budaya, sejarah, nilai-nilai, kepercayaan, perjuangan, kesenian dan bahasa yang menjadikan mereka dari bagian identitas yaitu bahasa Isyarat (Adhi, 2015). Selain itu, Tuli memiliki unsur yang historis pada komunitas Tuli sehingga Tuli itu bukan kata negatif melainkan identitas. Tuli itu juga berbeda dengan tuli. (Bisa diriset dulu). Sedangkan Tunarungu merupakan perusakan atau kekurangan dalam pendengaran dimana artinya dapat disembuhkan secara medis. Saya tidak butuh untuk disembuhkan agar dapat mendengar suara. Tuhan memang mengambil pendengaran nyata saya tetapi Tuhan justru menggantikannya dengan pendengaran visual yaitu Bahasa Isyarat. Jadi intinya, saya bangga disebut Tuli tapi entah kenapa ada orang-orang bisa menganggap kata tersebut negatif, siapa yang bisa menjadikan kata Tuli menjadi kata kasar. Tetapi, mari kita jadikan Tuli merupakan kata identitas (kata benda) bukan kata kasar (kata sifat). Tidak hanya itu, banyak teman-teman sulit mengakses Bahasa Indonesia yang baik karena sedikit yang menyadari bahwa Bahasa Isyarat alamiah bukan sistem Isyarat. Sesungguhnya Bahasa Isyarat Alamiah bisa menghantar mereka untuk mengakses bahkan mempelajari Bahasa Indonesia.

Bapak, apakah sudah tahu? Sejauh ini terdapat 7 Bahasa Isyarat Daerah (Jakarta, Yogya dll) sedang diriset dan dikembangkan. Bangga bukan? Tetapi saya mungkin bisa malu untuk menyampaikan ke adik-adik Tuli kita bahwa tidak ada dukungan dari pemerintah Indonesia sendiri dalam pengembangan Bahasa Isyarat Daerah justru dapat dukungan dari lembaga luar negeri. Niatnya menjaga kebudayaan sendiri kok tidak dibantu justru dibantu oleh negara lain. Bisakah pemerintah Indonesia berperan lebih dalam kasus ini dibanding negara lainnya? Ditunggu kapan diskusi. Mohon jangan biarkan saya menderita secara batin untuk menyaksikan bahwa teman-teman sulit mengekspresikan dalam Bahasa Indonesia karena sistem pendidikan Luar Biasa/Khusus menjadikan mereka sebagai warga tertinggal. Sebenarnya, pemerintah sendiri memiliki sistem isyarat dimana metodenya merupakan plagiarism (mengambil isyarat di luar dan melakukan kombinasikan dengan sistem isyarat seperti imbuhan) seperti Bahasa Inggris dijadikan Bahasa Indonesia secara tiba-tiba tanpa adanya penelitian, eksperimen bahkan tidak melibatkan komunitas Tuli. Ada Informasi lain menurutku yang sulit saya terima adalah proyek sistem isyarat tersebut disebabkan karena unsur politisasi yang terjadi pada tahun 1994 demi nama baik di mata internasional (Saya tahu siapa tetapi tidak yakin apakah itu bisa dibenarkan). Informasi selanjutnya yang sudah lama ditinggal bagai debu --> https://www.change.org/p/mensos-al-jufri-mendikbud-m-nuh-akui-bahasa-isyarat-indonesia-bisindo

Apalagi kami tidak bisa membanggakan film Indonesia bahkan menikmati TV nasional dimana Bapak Jokowi, Pak Ahok, Pak Anies Baswedan berpidato karena tidak ada teks/subtitle Bahasa Indonesia serta Juru Bahasa Isyarat (BISINDO). Jadi kami pun tertinggal jauh dibanding kalian. Ironisnya, sebagian kami termasuk saya sendiri lebih sering nonton film Barat/Luar Negeri daripada film kita sendiri karena film Barat tersedia subtitle Bahasa Indonesia. Kami ingin membanggakan film Indonesia tetapi tidak bisa karena tidak ada akses informasi dan komunikasi.

Tahukah Bapak? Data terakhir saya tahu bahwa terdapat 3-5 Juta kaum Tuli pada tahun 2009 berdasarkan Pusdatin. Nah sekarang berapa? Bagaimana kehidupan mereka? Apakah mereka mendapatkan kasih sayang orang tua? Sebagian besar orangtua malu kalau memiliki Anak Tuli yang tidak bisa berbicara. Tidak semua kaum Tuli bisa bicara pak, tetapi pendidikan Indonesia tidak mampu memberikan ruang mereka untuk mengekspresikan mereka sebagaimana hak mereka sebagai warga negara Indonesia karena tidak adanya Bahasa Isyarat dalam kehidupan mereka. Misalnya, ada yang menyebutkan bahwa 90% Kaum Tuli di Kupang mengalami Buta Huruf.

Selain itu, banyak kaum Tuli terutama perempuan pun rentan menjadi korban pemerkosaan, apakah ini bisa dibiarkan? Seperti informasi terakhir kudapat, salah satu sekolah luar biasa negeri, banyak murid-murid Tuli pun menjadi korban pemerkosaan dimana pelakunya adalah gurunya sendiri. (Informasi akan ditambahkan)
Kasus pemerkosaan yang sudah terjadi:
- http://jatim.metrotvnews.com/read/2015/09/14/431051/sadis-gadis-tuna-rungu-digilir-9-pemuda-di-jombang
- http://translampung.com/artikel-4132-y-dan-k-perkosa-gadis-tunarungu-karena-pengaruh-film-porno.aspx
- http://news.detik.com/berita/2819803/sedih-wanita-tuna-rungu-diperkosa-di-kebun-sawit-di-siak-riau
- Masih berlanjut....

Itu disebabkan karena lemahnya pendidikan Tuli di Indonesia karena tanpa adanya Bahasa Isyarat Alamiah dalam kurikulum pendidikan tersebut.

Sesungguhnya Bahasa Isyarat mampu mengantar saya untuk mengenal dunia sessungguhnya. Saya pun sadar akan pentingnya Bahasa Isyarat dari negara tetangga bukan tanah air kita. Saya bangga terlahir sebagai Tuli di Indonesia tetapi belum bangga menjadi warga Tuli Indonesia karena keterbatasan akan akses.

Tidak hanya itu, akses pendidikan agama di Indonesia pun sulit ampun. Contohnya, hampir seumur hidup saya, ketika mau sholat Jumat, saya selalu merasa bengong dan tidak mendapatkan ilmu apapun selama khutbah karena saya tidak bisa memahami gerakan bibir Ustad. Akses pendidikan Agama di Indonesia sangat sulit sekali, sangat sulit untuk beriman jikalau akses agama minim.

Walaupun demikian, saya mencoba meminta kekuatan kepada Tuhan agar bisa lebih sabar dan tidak menyalahkan pemerintah Indonesia sebelumnya tetapi berikan kesempatan saya untuk menyaksikan adik-adik Tuli dapat berbahagia karena mampu mengakses pendidikan Bahasa Indonesia melalui Bahasa Isyarat. Dan, Adik-Adik Tuli berhak mendapatkan pendidikan yang sama dengan kaum mendengar tetapi bahasa penghantar adalah Bahasa Isyarat, jadi mereka bisa lebih daripada mereka harus masuk SLB melainkan Sekolah Tuli.

Informasi terakhir bahwa Bapak Jokowi akan menyiapkan sebuah pabrik, tetapi bagaimana dengan generasi muda Tuli?

Rekomendasi yang mungkin kita bisa diskusi bersama:
1. Data Populasi Disabilitas khususnya orang-orang kehilangan pendengaran/Tuli - Hard of Hearing (Kesulitan Pendengaran/Tuli Ringan)
2. Menanggulangi kasus-kasus yang menyangkut Hak Asasi Manusia seperti kasus pemerkosaan, diskriminasi sosial dan sebagainya.
3. Sumber Permasalahan Tuli dalam Bahasa (Pengembangan, Pengakuan, Perlindungan terhadap Bahasa Isyarat)
4. Terminologi istilah Tuli dan Tunarungu
5. Pengembangan Guru Tuli - Guru Mendengar dengan Bahasa Isyarat dan lainnya. (Guru Tuli sangat penting sebagai role model bagi generasi muda Tuli
6. Pengembangan Interpreter Bahasa Isyarat
7. Pendidikan Tuli dengan Bahasa Isyarat.
8. Penambahan akses informasi dan komunikasi di TV nasional dan film Indonesia (Adanya Teks Bahasa Indonesia/Juru Bahasa Isyarat Indonesia di TV maupun film, di fasilitas umum dll.)
9. Dll.

Terima kasih.

Calon pelayan Komunitas Tuli di masa mendatang.
 

3 Tanggapan

+4 vote
Phieter Angdika (8 poin)   10 Des 2015
saya setuju kata "Tuli" karena mempunyai identitas dari
kecil sampai besar. Tuli itu bukan kata kasar, mohon Pak Presiden mendengar hasil riset dari Tuli asli yang sudah lulusan dari kuliah di Hongkong. Tolong buka mata kepada komunitas Tuli asli.
+2 vote
Christianto Harsadi (5 poin)   11 Des 2015
Pengalaman saya ketika mengurus birokrasi di pemerintahan selama kurang lebih 1 tahun, saya telah menemukan beberapa fakta di lapangan. Menurut analisa saya sendiri, kesulitan terbesar dalam birokrasi adalah kurangnya pemahaman pejabat pemerintah terhadap kaum Tuli. Bukan hanya pejabat saja, tetapi pemangku kepentingan seperti komunitas lain bekerjasama dengan kaum Tuli juga tidak paham betul tentang identitas Tuli. Sebagai contoh nyata, kegiatan pelatihan bahasa isyarat yang diselenggarakan oleh pemkot bekerjasama dengan Gerkatin dan KSD (Komunitas Sahabat Difabel) membutuhkan narasumber bahasa isyarat. KSD itu hampir mau mencari narasumber pendengar yang kurang mahir bahasa isyarat, kemudian Gerkatin menolak dan mencari narasumber tuli sudah berkompetensi dalam bahasa isyarat. Untunglah Gerkatin sudah berhasil menjelaskan tentang identitas tuli sebenarnya, tetapi masih belum sepenuhnya karena butuh seseorang yang lebih kompeten pada bidang ini. Menurut saya, proses sosialisasi tentang pendidikan tuli kepada masyarakat maupun pemangku kepentingan sangat panjang dan lama memakan waktu bertahun-tahun sama seperti yang dilakukan di USA.
Demikian tanggapan saya dibuat, apabila adanya kata-kata kurang berkenan di hati Anda, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Saya mohon kritik dan saran bersifat membangun. Terima kasih.

Christianto Harsadi
0 vote
R√†ka Nurmujahid (2 poin)   2 Mar
Saya mendukung pernyataan mas Surya Sahetapy. Semoga Indonesia berubah total ke arah lebih baik dimana kaum Tuli Indonesia akan mendapatkan akses-akses yang layak dan memadai. Bahasa Isyarat pun didukung penuh oleh pemerintah membuat anak-anak Tuli akan berkembang dengan baik dan mampu menciptakan generasi muda Tuli yang hebat dapat berguna bagi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang menghargai adanya perbedaan.
Selamat Datang di Lapor Presiden, di mana Anda sebagai rakyat dari seluruh Indonesia dapat mengajukan laporan seputar masalah dari berbagai aspek untuk diajukan ke Presiden dan menerima tanggapan dari anggota masyarakat lainnya.
...