Anindhita Ratna Fadh (9 poin)   13 Nov 2015   Presiden   2,766 dilihat
Kepada Yth Bapak Jokowi,
Dengan diresmikannya program baru oleh Menkes Nila Moeloek yaitu program Dokter Layanan Primer maka semakin lama pendidikan untuk menjadi seorang Dokter. Perlu diketahu bahwa sebelum diberlakukan program tersebut, kami mahasiswa kedokteran harus menjalani :
- Pendidikan preklinik min. 4 tahun ( kalo beres)
- Koass min. 2 tahun ( kalo tidak diperpanjang lagi)
- Menunggu UKMPPD min. 6 bulan (kalau lulus dan tidak mengulang lagi tahun depan)
- Sumpah Dokter ( Yang berarti kami SUDAH menjadi dokter, BUKAN lagi mahasiswa)
- Internship min. 1 - 2 tahun ( Itupun kalau langsung dapet kuota dan ini merupakan keharusan yg TELAH diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.299/Menkes/Per/II/2010. Hanya mendapat gaji 2,5 bulan yang belum tentu tepat waktu dikasihnya dan dengan resiko jauh dari keluarga dan tinggal di fasilitas minim)
- Baru bisa buka praktek layanan primer / dokter umum.

Namun dengan program Dokter Layanan Primer (DLP) tersebut kamu wajib "kuliah" lagi mengambil setara S2 dengan lamanya minimal 2 / 4 tahun.agar bisa mendapat gelar dokter layanan primer sebelum bisa menjadi dokter yang seutuhnya. Intinya adalah kami SUDAH harus membutuhkan 7-8 tahun untuk menjadi dokter namun sekarang diperpanjang lagi dengan adanya program DLP.

Bapak Jokowi,
Ini adalah keluhan pribadi saya. Saya sebenarnya tidak masalah jika harus menjalani pendidikan lagi untuk menjadi DLP. Namun yang saya keluhkan adalah orang tua saya. Yang menjadi mahasiswa kedokteran datang dari kalangan atas sampai bawah. Sehingga tidak bisa dipukul rata bahwa kami semua adalah orang yang ekonominya cukup. Tidak bisa, Bapak. Saat ini saya masih pendidikan preklinik, sedangkan teman-teman saya sudah ada yang bekerja dan menghasilkan uang. Sedangkan saya masih merepotkan orang tua. Saya saat ini mulai tidak enak sering meminta uang ke ortu saya karena saya sudah dewasa dan ingin mulai membahagiakan orang tua saya.

Bapak Jokowi,
Saya mengerti bahwa program DLP tersebut untuk meningkatkan kualitas dokter dan meminimalkan resiko malpraktek untuk masyarakat. Dalam hal ini, pemerintah menguntungkan masyarakat dan menguntungkan dokter juga karena kami bisa menjadi lebih berkualitas. Namun di lain sisi, dokter terugikan karena kami harus mengeluarkan uang untuk mengikuti program DLP tersebut. Jika pemerintah menuntut kami untuk wajib mengikuti DLP agar lebih berkualitas setidaknya ada opsi tambahan yang juga meringankan beban kami ? Jangan karena jumlah kami (dokter/mahasiswa kedokteran) lebih sedikit daripada jumlah rakyat Indonesia, pemerintah selalu menjadikan kami tumbalnya. Dan saya merasa bahwa pemerintah telah merenggut hak asasi kami.

Bapak Jokowi,
Umur orang tua saya makin bertambah. Kinerja orang tua saya pasti juga mulai menurun. Kami sudah memiliki asuransi sendiri. Dan dengan diwajibkannya harus memiliki BPJS. Saya makin jadi merasa "dirampok". Apalagi ditambah internship yg hanya 2,5 juta yg dengan resiko jauh dari ortu dan mungkin ditempatkan di tempat terpencil yang tentunya juga membutuhkan uang untuk transportasi menuju ke lokasi dan untuk biaya hidup, lalu ditambah dengan harus kuliah lagi agar bisa menjadi Dokter Layanan Primer. Saya khawatir dengan kondisi orang tua saya nanti beberapa tahun ke depan. Saya khawatir dengan orang tua yang nanti bisa stress karena memikirkan uang untuk menyelesaikan pendidikan dokter saya.
Tolong Bapak Jokowi, tidak ada anak yang tidak ingin membahagiakan orang tuanya. Saya mohon buatlah sebuah kebijakan yang menguntungkan kami para dokter dan mahasiswa kedokteran. Saya hanya ingin cepat bekerja berhenti merepotkan orang tua agar kami bisa menghasilkan uang dan membayar jerih payah orang tua saya yang pontang-panting agar kami bisa menyelesaikan pendidikan saya.

Kepada Pak Jokowi dan seluruh kementerian terkait yang terhormat, tolong #ManusiakanDokter :)
Mohon maaf jika ada salah kata dan ada kata yang menyinggung.
 
Sandra Susanti (4 poin)   16 Nov 2015
diubah 16 Nov 2015 oleh Sandra Susanti
Pak Presiden yg terhormat,mohon dikaji lagi Program Dokter Layanan Primer.... Karena mau berapa lama seorang dokter bisa praktek cari nafkah ?...Harus ikut Program Layanan Primer 2 tahun lagi,jadi 10 tahunan baru bisa jadi dokter!!??...Sedangkan mereka yg tamatan bukan kedokteran setelah lulus S1 sudah bisa cari nafkah untuk bantu2 orang tua,sedangkan KEDOKTERAN sudah 7 - 8 tahun ( Koass+ Intensive) harus SEKOLAH lagi 2 tahun apa itu tidak berlebihan !!!!???..... Indonesia butuh banyak sekali dokter,kalau dengan diterapkan sistim Program Dokter Layanan Primer bukan tambah banyak dokter dan tambah pintar ilmunya,malahan sebagian besar banyak yg tidak melanjutkan lagi mereka beralih ke wiraswasta (usaha / kerja) jadi gelar "dokter" hanya sebagai "pajangan" saja.Sedangkan sekolah lagikan harus pakai "biaya" orang tua sudah berat sekali menyekolahkannya sampai lulus terus Intensif ( 1 tahun) ke daerah masa mereka harus DIBEBANI lagi biaya untuk sekolah lagi 2 tahun !!??........Kasihankan ,masih banyak daerah2 yg agak terpencil memerlukan dokter. Harap "keluhan" ini (orang tua dokter) ini menjadi pertimbangan Pak Presiden yg terhormat...Terima kasih.
Nina Marlina (2 poin)   17 Nov 2015
diubah 16 Nov 2015 oleh Nina Marlina
Harap Bapak Presiden mengkaji ulang Menkes Nila Moeloek yaitu program Dokter Layanan Primer maka semakin lama pendidikan untuk menjadi seorang Dokter. !!!! Kasihan para dokter setelah beres Intensif di daerah terpencil 1 tahun dengan honor 2,5 jt terus dipotong "apalah" 100ribu jadi 2,4 jt lebih rendah dari honor pekerja bangunan atau sama dengan honor "PRT" dengan honor "segitu" harus kost (kontrak) belum biaya transportasi,makan dsb,dengan sendirinya tidak akan cukup dan orang tua subsidi kekurangannya,mending kalau dari golongan orang tua yg mampu..... Jadi anak "kami" harus kapan lagi bisa buka praktek dokter kalau harus sekolah lagi 2 tahun dan keluar biaya lagi...?
Kami harap dengan adanya keluhan ini menjadi pertimbangan Bapak Presiden yg terhormat juga jajaran intansi yg terkait... Maaf kalau ada salah kata..Terima kasih.
Dessy Aryani (2 poin)   17 Nov 2015
Wah tambah lama jadi dokter kalau diresmikannya program baru oleh Menkes Nila Moeloek yaitu program Dokter Layanan Primer ...PARAHHHH.....   pastinya banyak dokter yg frustrasi beralih mengambil profesi lain seperti kerja / wiraswasta daripada sekolah lagi 2 tahun...Tambah sedikit dokter nantinya,padahal kekurangan sekali tenaga medis di masyarakat .... :'( :'(
Prandika Susanto (14 poin)   26 Nov 2015
Apakah lulusan dokter sekarang tidak bisa praktek di Layanan Primer seperti PUSKESMAS?? Kenapa ga digabung dalam pendidikan dokter saja. Hanya buang2 waktu saja harus sekolah lagi dan lagi. Tolong dipertimbangkan pak Presiden
Nina Marlina (2 poin)   26 Nov 2015
Mantappp... (y)

6 Tanggapan

+9 vote
Tony Setiawan (22 poin)   16 Nov 2015
diubah 17 Nov 2015 oleh Tony Setiawan
Tepat sekali tanggapan Sandra Susanti...!!! (y) (y) (y)
+1 vote
Desi Maharani (4 poin)   20 Nov 2015
Semoga Bapak Presiden dan jajaran terkait membaca laporan / keluhan dari dokter / Orang tua dokter,dan secepatnya memberikan  tanggapan yang positif...Terima kasih.....
+1 vote
Sandra Susanti (4 poin)   24 Nov 2015
<3  Bagus...
Bagus Yulianto (0 poin)   28 Sep 2016
Kerisauan Sandra Susanti adalah kerisauan kebanyakan Mahasiswa Kedokteran. Jika pendidikan kedokteran makin lama maka itu menambah beban org tua (terutama yg kurang mampu), Hak Mahasiswa utk merajut rumah tangga jadi tertunda (makin lama jomblo). Hal ini pd masa akan datang bisa mengurangi minat utk kuliah dikedokteran. Bukankah Dokter kita masih kurang? Dengan kebijakan ini malah menambah masalah kekurangan dokter.
Jika tujuannya utk meningkatkan kualitas Dokter. Maka program ini baiknya dibiayai oleh Pemerintah, dan dijalankan oleh Dokter setelah mengabdi 2-3 tahun dulu, sehingga mereka sdh cukup mandiri utk menghidupi keluarganya.
0 vote
Nina Marlina (2 poin)   27 Nov 2015
Bagus sekali ...
0 vote
Udayalaksmana Kartiy (1 poin)   24 Okt 2016
Coba dipahami lagi dengan lebih seksama.
Dari artikel di website dikti di bawah, saya dapati bahwa program ini bersifat opsional. DLP itu setara dengan pascasarjana dan program spesialis. Jadi kekhawatiran akan masa belajar yang bertambah itu sama sekali tidak akan terjadi.

Kritik saya sih mungkin bisa jadi hal yang sia-sia jika ternyata programnya tidak bisa menghasilkan lulusan yang benar-benar memiliki kemampuan lebih dibanding dokter umum lainnya. Tapi sebagai alternatif dari spesialis dan magister, tentunya akan menarik. Semakin banyak opsi maka harusnya teman-teman dokter semakin senang. Tinggal bagaimana program ini bisa mengisi kekosongan yang ada.

http://www.dikti.go.id/kemristekdikti-dan-kemenkes-segera-buka-program-studi-dokter-layanan-primer/

http://journal.ui.ac.id/index.php/eJKI/article/view/4494/3426
0 vote
Koeng Sukmana Djaya (1 poin)   28 Des 2016
1. Kenapa harus dokter umum, yg melanjutkan dokter layanan primer?

2. Kenapa kolegium dr.spesialis tidak membuka pintu lebih lebar? Sehingga menghasilkan jumlah dr. Spesialis yg lebih banyak
Koeng Sukmana Djaya (1 poin)   28 Des 2016
Rasanya tidak ada negara manapun di dunia, yang merencanakan DLP seperti di Indonesia,

Dr.umum = dlp, tidak perlu sekolah dlp lagi
Selamat Datang di Lapor Presiden, di mana Anda sebagai rakyat dari seluruh Indonesia dapat mengajukan laporan seputar masalah dari berbagai aspek untuk diajukan ke Presiden dan menerima tanggapan dari anggota masyarakat lainnya.
...